Home

Rabu, 12 Juni 2013

Late Habit Indonesia Vs Japan

Discipline is very important in Japan, while in Indonesia 10 minutes late in considered normal. This habit is commonly called "Jam Karet" (rubber time). For the Japanese, this kind of habit will make a problem. Because they are taught discipline strictly, where they have to do 5 minutes preparation before the time promised. If you are just a few minutes late will be considered lack of discipline, or considered to unprofessional at work. In Indonesia, the term appears due to our environment which is difficult to put exact time because of many reason, such as heavy traffic, the time differences and other. Our geographic differences, the density of traffic and culture that make us often late. Please remove this habit if you work in an environment dealing with foreign guest guys :)))

Japanese Culture & Habits


KEBIASAAN ORANG JEPANG

1.      Tidak Terbiasa Memberikan TIP (No Tipping Habit)
Di Jepang tidak ada kebiasaan memberikan tip seprti di negara barat, barang-barang yang diperjualbelikan di jepang selalu di beri tariff dengan harga pas. Demikian sebabnya orang jepang tidak memiliki kemampuan menawar dan memeberikan tip kepada penjual jasa. Satu hal yang perlu diperhatikan apabila bersama dengan orang jepang ataupun sedang berada di jepang, berhati-hatilah untuk tidak membicarakan sesuatu yang tidak sopan dan menimbulakan kecurigaan. Membalas sebuah jasa dengan uang tunai juga merupakan sebuah tindakan yang tidak sopan, sebagai gantinya ketika orang jepang hendak membalas jasa mereka biasanya memberikan kue atau hanya ucapan terima kasih saja.
2.      Tidak Memiliki Keyakinan (Agama)
Undang-undang di jepang memberikan kebiasaan warganya untuk beragama maupun tidak beragama, dan tidak ada larangan memeluk agam lebih dari 5 agama besar seperti yang ada di Indonesia. Negara hanya melarang untuk tidak memakai salah satu agama dalam upacara resmi pemerintahan (mengurangi diskriminasi, sara dll). Perubahan ini terjadi akibat kesalah masa lalu, dimana Jepang menganggap Kaisar sebagai Dewa atau Tuhan mereka. Maka dari itu ketika melaksanakan upecara perkawinan, kematian sering kali bercampur dengan beberapa ritual dari beberapa agama :O
3.      Makan Bersuara (eating with voice habit)
Orang Jepang biasa makan soba, udon, ramen dll. Pada saat mereka makan sering terdengar suara dan bagi mereka merupakan sebuah kebiasaan atau budaya untuk mengunggkapkan betapa lezatnya makanan yang sedang mereka makan.
4.      Salam Dengan Mendundukan Kepala (Ojigi)
Orang jepang seringkali terlihat acuh tak acuh ketika berpapasan, namun apabila kita amati dengan teliti mereka tidak cuek, mereka sering menundukan kepala sekan-akan menunjukan sikap tidak ingin tahu namun jangan sampai kita salah paham.
5.      Takut/Jijik Dengan Cicak
Orang jepang paling takut apabila melihat sernagga didalam rumah mereka terutam paling takut dengan adanya CICAK :O. Mereka cederung paranoid apabila cicak tersebut jatuh dan mengenai tubuh mereka, bisa dibayangkan?
6.      Biasa Makan Makanan Mentah
Orang jepang terbiasa makan makanan mentah seperti sahimi, sushi dll. Tentunya makanan tersebut harus memenuhi syarat kriteria kesehatan yang sesuai dengan standar Jepang. Sebuah survey menjunjukan usia orang jepang lebih pajang dari rata-rata orang di dunia. Because of raw food, wanna try to eat raw food???
Sumber : Wahjoedi, D. I. (2012). Bahasa Jepang Perhotelan. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Silabel Dalam Bahasa Jepang


   
Silabel adalah bunyi bahasa, yang mana dalam bahasa jepang disebut dengan onsetsu. Silabel dalam bahasa jepang sebagaian besar dilamabangkan dengan sebuah huruf kana (hiragana&katakana) ada juga silabel yang dilambangkan dengan dua buah huruf kana disebut dengan yoo’on . Dalam penulisannya ditulis degan cara menggabungkan huruf-huruf kana yang berakhiran vokal “i” digabungkan dengan huruf kana や、ゆ、よ、yang ditulis dengan huruf kecil sehingga menjadi silabel seperti: きゃ、きゅ、きょ、dan sebagainya. Silabel bahasa jepang dapat dibagi menjadi beberapa fonem, fonem-fonem tersebut ada yang berbentuk konsonan,vokal, dan semi vokal. Silabel bahasa jepang yang terbentuk dari susunan fonem sebagai berikut:
a.       V (satu vokal), yaitu vokal-vokal “a/i/u/e dan o”.
b.      KV ( satu konsonan dan satu vokal), yaitu silabel-silabel “ka/ki/ku/, ke/, ko dan sebagainya.
c.       SV (satu semi vokal dan satu vokal), yaitu silabel-silabel ‘ya/, yu/, yo dan wa”.
Dari struktur silabel diatas dapat dilihat bahwa silabel bahasa jepang sebagian besar diakhiri dengan vokal. Silabel yang diakhiri dengan vokal dalam bahasa jepang disebut dengan kaiosetsu silabel buka) dan silabel yang diakhiri dengan konsonan disebut beionsetsu (silabel tutup).  Oleh karena silabel dalam bahasa jepang merupakan silabel buka, maka kata asing yang dijadikan bahasa jepang ( kata pungut) harus mengikuti atauran silabel bahasa jepang, yang mana kata asing yang diambil apabila terdapat  unsur silabel tutup maka kata tersebut harus diubah menjadi silabel buka dengan menambahkan satu vokal pada akhir silabel tutup. Contohnya: kata “strike” akan menjadi “sutoraiku”, dengan penambahasn silabel ini maka akan terjadi perubahan jumlah silabel pada kata aslinya.
§      Daftar Silabel Bahasa Jepang
い 
K
S
T
N
H
M
Y

R
W



Z
D