Akai Hana
Selasa, 08 Juli 2014
Rabu, 12 Juni 2013
Late Habit Indonesia Vs Japan
Discipline is very important in Japan, while in Indonesia 10 minutes late in considered normal. This habit is commonly called "Jam Karet" (rubber time). For the Japanese, this kind of habit will make a problem. Because they are taught discipline strictly, where they have to do 5 minutes preparation before the time promised. If you are just a few minutes late will be considered lack of discipline, or considered to unprofessional at work. In Indonesia, the term appears due to our environment which is difficult to put exact time because of many reason, such as heavy traffic, the time differences and other. Our geographic differences, the density of traffic and culture that make us often late. Please remove this habit if you work in an environment dealing with foreign guest guys :)))
Japanese Culture & Habits
KEBIASAAN ORANG JEPANG
1.
Tidak
Terbiasa Memberikan TIP (No Tipping Habit)
Di Jepang tidak
ada kebiasaan memberikan tip seprti di negara barat, barang-barang yang
diperjualbelikan di jepang selalu di beri tariff dengan harga pas. Demikian
sebabnya orang jepang tidak memiliki kemampuan menawar dan memeberikan tip
kepada penjual jasa. Satu hal yang perlu diperhatikan apabila bersama dengan
orang jepang ataupun sedang berada di jepang, berhati-hatilah untuk tidak
membicarakan sesuatu yang tidak sopan dan menimbulakan kecurigaan. Membalas
sebuah jasa dengan uang tunai juga merupakan sebuah tindakan yang tidak sopan,
sebagai gantinya ketika orang jepang hendak membalas jasa mereka biasanya
memberikan kue atau hanya ucapan terima kasih saja.
2.
Tidak
Memiliki Keyakinan (Agama)
Undang-undang di
jepang memberikan kebiasaan warganya untuk beragama maupun tidak beragama, dan
tidak ada larangan memeluk agam lebih dari 5 agama besar seperti yang ada di
Indonesia. Negara hanya melarang untuk tidak memakai salah satu agama dalam
upacara resmi pemerintahan (mengurangi diskriminasi, sara dll). Perubahan ini
terjadi akibat kesalah masa lalu, dimana Jepang menganggap Kaisar sebagai Dewa
atau Tuhan mereka. Maka dari itu ketika melaksanakan upecara perkawinan,
kematian sering kali bercampur dengan beberapa ritual dari beberapa agama :O
3.
Makan
Bersuara (eating with voice habit)
Orang Jepang
biasa makan soba, udon, ramen dll. Pada saat mereka makan sering terdengar
suara dan bagi mereka merupakan sebuah kebiasaan atau budaya untuk
mengunggkapkan betapa lezatnya makanan yang sedang mereka makan.
4.
Salam
Dengan Mendundukan Kepala (Ojigi)
Orang jepang seringkali terlihat
acuh tak acuh ketika berpapasan, namun apabila kita amati dengan teliti mereka
tidak cuek, mereka sering menundukan kepala sekan-akan menunjukan sikap tidak
ingin tahu namun jangan sampai kita salah paham.
5.
Takut/Jijik
Dengan Cicak
Orang jepang paling takut apabila
melihat sernagga didalam rumah mereka terutam paling takut dengan adanya CICAK
:O. Mereka cederung paranoid apabila cicak tersebut jatuh dan mengenai tubuh
mereka, bisa dibayangkan?
6.
Biasa
Makan Makanan Mentah
Orang jepang terbiasa makan makanan mentah seperti
sahimi, sushi dll. Tentunya makanan tersebut harus memenuhi syarat kriteria kesehatan
yang sesuai dengan standar Jepang. Sebuah survey menjunjukan usia orang jepang
lebih pajang dari rata-rata orang di dunia. Because of raw food, wanna try to
eat raw food???
Sumber : Wahjoedi, D. I. (2012). Bahasa Jepang Perhotelan.
Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Silabel Dalam Bahasa Jepang
Silabel adalah bunyi bahasa, yang
mana dalam bahasa jepang disebut dengan onsetsu. Silabel dalam bahasa jepang
sebagaian besar dilamabangkan dengan sebuah huruf kana (hiragana&katakana)
ada juga silabel yang dilambangkan dengan dua buah huruf kana disebut dengan yoo’on . Dalam penulisannya ditulis
degan cara menggabungkan huruf-huruf kana yang berakhiran vokal “i” digabungkan
dengan huruf kana や、ゆ、よ、yang ditulis
dengan huruf kecil sehingga menjadi silabel seperti: きゃ、きゅ、きょ、dan
sebagainya. Silabel bahasa jepang dapat dibagi menjadi beberapa fonem, fonem-fonem
tersebut ada yang berbentuk konsonan,vokal, dan semi vokal. Silabel bahasa
jepang yang terbentuk dari susunan fonem sebagai berikut:
a. V
(satu vokal), yaitu vokal-vokal “a/i/u/e dan o”.
b. KV
( satu konsonan dan satu vokal), yaitu silabel-silabel “ka/ki/ku/, ke/, ko dan
sebagainya.
c.
SV (satu semi vokal dan satu vokal),
yaitu silabel-silabel ‘ya/, yu/, yo dan wa”.
Dari struktur silabel diatas dapat
dilihat bahwa silabel bahasa jepang sebagian besar diakhiri dengan vokal.
Silabel yang diakhiri dengan vokal dalam bahasa jepang disebut dengan kaiosetsu silabel buka) dan silabel yang
diakhiri dengan konsonan disebut beionsetsu
(silabel tutup). Oleh karena silabel
dalam bahasa jepang merupakan silabel buka, maka kata asing yang dijadikan
bahasa jepang ( kata pungut) harus mengikuti atauran silabel bahasa jepang,
yang mana kata asing yang diambil apabila terdapat unsur silabel tutup maka kata tersebut harus
diubah menjadi silabel buka dengan menambahkan satu vokal pada akhir silabel
tutup. Contohnya: kata “strike” akan
menjadi “sutoraiku”, dengan
penambahasn silabel ini maka akan terjadi perubahan jumlah silabel pada kata
aslinya.
§ Daftar
Silabel Bahasa Jepang
|
|
ア
|
い
|
う
|
え
|
お
|
|
K
|
か
|
き
|
く
|
け
|
こ
|
|
S
|
さ
|
し
|
す
|
せ
|
そ
|
|
T
|
た
|
ち
|
つ
|
て
|
と
|
|
N
|
な
|
に
|
ぬ
|
ね
|
の
|
|
H
|
は
|
ひ
|
ふ
|
へ
|
ほ
|
|
M
|
ま
|
み
|
む
|
め
|
も
|
|
Y
|
|
|
ゆ
|
|
よ
|
|
R
|
ら
|
り
|
る
|
れ
|
ろ
|
|
W
|
|
|
|
|
を
|
|
Z
|
ざ
|
じ
|
ず
|
ぜ
|
ぞ
|
|
D
|
だ
|
ぢ
|
づ
|
で
|
ど
|
|
|
|
|
|
|
|
Rabu, 13 Februari 2013
bali treetop adventure park
Langganan:
Komentar (Atom)