Dulu penjajah kita satu negara,
Mereka berdasi sutra, ramah tamah luarbiasa dan berlebih senyumnya.
Makin banyak kita meminjam uang mereka makin gembira
Karenaleher kita makin mudah dipatahkan.1
· Keimanan
· Kejujuran
· Ketertiban
· Kesopanan
· Pengendalian diri
· Pengorbanan
· Tanggung jawab
· Kebersamaan
· Keiklasan
· Optimalisme
· Kerja keras
· Menghargai pendapat orang,2
Untuk menyebut 12 nilai luhur (yang bila diperlukan, masih dapat diperpanjang sampai 50 butir lagi), yang sudah cukup menyesakkan nafas kita.
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
Berjalan aku di sixth Aveneu, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindungdi belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang indonesia.3
Sebuah keberuntungan yang merupakan bencana luar biasa, pada saat orang tidak lagi mampu membedakan antara mana yang boleh, mana yang tidak boleh atau mungkin masih tahu tetapi bila sampai pada pilihan gawat masuk-tidak-masuknya rezeki, maka kemapuan buyar:
Apalagi di negeri kita lama sudah
Tidak jelas batas halal haram,
Ibarat mebentang benang hitam
Di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet,
Bergerak ke kanan kesenggol jambret,
Jalan di depan di kuasai maling,
Jalan di belakang penuh tukang peras,
Yang di atas tukang tindas
Untuk hari ini
Bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia
Sudah untung.4
Cita-cita menjadikan Indonesia negara industri secara ironi di tuliskan sebagai berikut:
Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian,
Sangat menjajikan,
Begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid,
Sangat tinggi dalam evaluasi,
Hari depannya penuh janji,
Adalah industri korupsi.
Prosedur investasi industri korupsi
Tidak dipersulit birokrasi sama sekali,
Karena iklim kondusif, banyak pihak partisipasif,
Cerah secara prospektif, sehingga sangat atraktif,
-----
Industri korupsi ini semakin lebar sekali,
Meliputi semua potongan hidung- pesek dan mancung,
-----
Seluruh visi dan misi,
Kelompok politisi,
Praktisi ekonomi seluas-luas profesi
Dipayungi oleh kroni,
Hubungan famili,
Ikatan ideologi,
Suku itu dan ini
-----
Penanaman koruptor sudah tidak menggigit lagi kini,
Istilah korupsi sudah pudar dalam arti.
Lebih baik kita memakai istilah maling.
maling dengan dua el, membedakannya dan maling dengan satu el.5
dinamika pengambilan benda yang bukan hak si pengambil, berkembang secara sangat terbuka, blak-blakan dan bersemangat justru dalam masa reformasi, setelah 1998, hingga hari ini:
lihatlah para maling kini berfungsi dalam semangat gotong-royong
mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur dan betapa kusyu’
--------
Bagaimana melawan maling yang kerja gotong royongnya berjamaah?
Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya
Malah dilindungi dari aats sampai bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata,
Bagian juga dari yang peganmg senjata dan yang memerintah.
Bagaimana ini?6
Situasi ini telah membuat sebagian kecil manusia Indonesia yang berkepribadiannya jadi berbelah-bagi, tak sekata tak serasi antara bagian badan kanan dan kiri, brbeda pula fungsinya antara tubuh yang kanan dan tubuh yang kiri, sebuah konstatasi proses genetika yang layak diamati:
Tangan kiri ini menjamah disposisi
MOU (memorandum of understanding)
Dan MUO (Mark Up Operatin),
-------
Otak kirinya merancang prosentase komisi pembelian,
Pembpobolan bank dan pemotongan anggaran,
Otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha
dan memohon ampunan Tuhan.7
betapa bingungnya kita menghadapi keadaan edan-edanan, amburadul, bergelemak-peak, kusut, carut-marut. Dihadapkan pada posisi akut, menentukan posisi di antara dua posisi ini. Menghindari kefasikan. Betapa berat, alangkah musyakat. Apa yang mesti dibuat?
Bagaimana caranya memotong maling begini
Yang bergotong-royong bersama-sama mencuri
Dengan lirik bolopis kuntul baris bersemangat bernyanyi
Barisannya kukuh seperti benteng kraton,
---------
Bagaimana caranya memroses hukum
Maling yang jumlahnya ratusan ribu, bahkan mungkin sejuta,
cukup membentuk sebuah negara mini,
meliputi mereka yang pegang kendali perintah,
eksekutif,legislatif, yudikatif dan dunia bisnis,
yang pegang pistol dan mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi.
Bagaimana caranya?
----------------
Seratus tahun pengadilan, setiap hari 12 jam dijadwalkan
Insya Allah akan lumayan, walau tak tuntas terselesaikan.
Dua puluh presiden kita turun dan kita naikkan,
Masalah ruwet kusut ini mungkin tak habis teruraikan
Tetapi harus tetap dijalankan.8
Menoleh kembali ke beberapa dasawarsa ke belakang, maka akan tampak bahwa betapa bejalin-berkelindangannya jaringan kekacauan yang membelit tubuh bangsa yang membelit tubuh bangsa, mencekik leher kita, menindas nafas semua:
Kita selama ini sudah terperangkap, terjerembab, terikat, terjerat
Dalam sistem yang kita sendiri buat,
Sistem yang ruwet, kusut, keriting dan berbelit sangat,
Yang dari padanya, rakyat tidak mendapat manfaat,
Dan karena kita semua terlibat,
Merubahnya seperti kita tak lagi dapat.9
-----------------
Jadi saudara bagaimanakah caranya?kita harus membujuk mereka.
---------
Kita doakan Allah membuka hsti mereka.
Terutama karena terbanyak dari mereka orang yang shalat juga,
Orang yang brpuasa juga, orang yang berhaji juga,
Orang yang melakukan kebaktian di gereja, pergi ke pura dan vihara juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka,
Agar bersedia kepada rakyat mengembalikan jatahan mereka.10
-----------------
Celakanya, bila di antara jamaah maling itu
Ada orang partai kita, orang seagama atau sedaerah,
Kita cenderung menutup-nutupi fakta,
Hukumannya lalu dimakruh-makruhkan
Dan diam-diam berharap semoga kita
Mendapatkan cipratan harta
Tanpa ketahuan siapa-siapa.11
***
Menghadapi masalah ringannya banyak orang mengambil benda yang bukan haknya ini, yang mengubur etika dan makin membudaya, saya ingin mengutip gagasan almarhum Kuntowijoyo12 tentang etika efektif profektif yang bersumber dari Al Quran, 3:110, “kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mecegah kemurkaan dan beriman kepada Allah.
-----------------------------------
1Dari puisi Taufiq Ismail, “jangan-jangan Saya Sendiri Juga Maling”(“JJSSJM”),2003, belum dibukukan.
2Taufiq Ismail, Agar Anak bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Mengarang, pidato di UNY, 8 Februari 2003.
3Taufiq Ismail, Malu Aku Jadi Orang Indonesia, Yayasan Indonesia, 2000.
4”JJSSJM”.
5Ibid.
6Ibid.
7Ibid.
8Ibid.
9Ibid.
10Ibid.
11Ibid
12Kuntowijoyo, “Maklumat Sastra Proferik”, majalah Horison, Mei 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar